Pergulatan Ekonomi di Tengah Pandemi: Antara Vaksinasi Gratis dan Berbayar

  • Bagikan

( Pedagang Kelapa Erlius Naga Woge, foto : Ist )

DetikFlores.Com || Ende –  Menjadi pedagang kelapa bukanlah sebuah pekerjaan mudah, apalagi di tengah situasi Pandemi Covid-19 yang kian mencekam. Perjuangan antara menghidupi ekonomi keluarga dan  menjaga kesehatan, menjadi dua sisi yang tak terpisahkan. Walaupun ada skala prioritas untuk sebuah tujuan, yang pasti keduanya sama-sama penting bagi seorang pedang kelapa. Hal inilah yang dialami oleh Erlius Naga Woge, seorang pedagang kelapa dari Kampung Ndondo, Desa Nuanaga, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebagai pedagang kelapa dari kampung ke kota, serta didukung dengan pendapatan yang lancar dari hasil penjualan kelapa tersebut, memicu semangat Erlius untuk terus berjualan dagangannya.

Namun, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diberlakukan di daerahnya, menjadi keluhan Erlius karena berimbas pada menurunnya pendapatan hariannya dan berdampak pula pada modal usahanya yang tidak akan berkembang alis mati. Meski demikian, semangatnya tak terkalahkan, bahkan Erlius selalu berusaha untuk mencari berbagai cara agar tetap eksis berjualan di Kota Maumere.

Point utama yang dikeluhkan oleh Erlius adalah mengenai vaksin gratis yang belum dijamah oleh Pemerintah setempat di desanya. “Vaksin gratis belum ada. Sehingga diberi alternatif untuk divaksin secara mandiri, namun berbayar,” ujarnya.

Vaksinasi mandiri  sebagai alternatif untuk berpergian, nominalnya sangat besar, yakni Rp 1.000.000;- untuk satu (1) kali vaksin. Akhirnya, Erlius memilih untuk tidak divaksin secara mandiri, karena harus ia mengeluarkan biaya yang sangat besar.

Erlius, pedagang kelapa ini, menyampaikan bahwa dengan adanya pemberlakuan PPKM Darurat, mengalami kesulitan untuk berjualan di Kota Maumere.

“Saya merasakan dampak yang sangat besar karena untuk bisa akses ke Kota Maumere, saya harus divaksin paling kurang dua kali, dan biayanya itu, satu kali vaksinis 1 juta rupiah, kalau dua kali, ya, 2 juta rupiah,” beber Erlius.

Lebih lanjut, Ia juga menegaskan bahwa sangat kesulitan berjualan kelapa di Kota Maumere sejak diberlakukan PPKM Darurat.

“Saya sangat merasa kesulitan di saat masa PPKM ini, karena barang jualan kami tidak bisa dijual, sudah selama tiga minggu.” Ujar Erlius Naga Woge kepada Media ini melalui sambungan telepon, pada Minggu (18/08/21).

Ia juga membeberkan tentang vaksinisasi secara gratis yang diberlakukan di Desa Nuanaga, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, yakni diprioritaskan untuk para aparat Pemerintah.

“Vaksinisasi yang berlaku di Desa Nuanaga, Kecamatan Kotabaru diprioritaskan untuk para aparat Pemerintah, lalu bagaimana dengan kami masyarakat yang diwajibkan harus vaksinisasi dua kali, baru bisa berakses ke Kota Maumere untuk jual barang dagangan kami, tolong kami diperhatikan oleh Pemerintah,” pinta Erlius.

Ia juga menambahkan, tanpa bermaksud untuk mengintervensi Peraturan Pemerintah terkait cara untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, yang sebagai masyarakat kecil, mengalami kesulitan.

“Saya tidak bermaksud untuk mengintervensi Peraturan Pemerintah terkait PPKM guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, tetapi saya minta pihak terkait bisa memprioritaskan vaksinisasi untuk kami masyarakat kecil sehingga kami bisa melakukan akses jual beli di kota.” Tuturnya.

Lebih lanjut, tambah Erlius “Sudah 3 (tiga) minggu, bukan hal yang gampang bagi kami masyarakat kecil, untuk tidak bisa melakukan proses jual beli barang dagangan kami di Kota Maumere karena akan berdampak pada faktor perekonomian kami.”

Selain itu, Erlius juga menyarankan agar vaksinasi gratis secepatnya diberlakukan di desanya. Vaksinisasi gratis merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah terhadap keselamatan masyarakat umum dari serangan virus Covid-19.

“Saya meminta pihak terkait supaya bisa secepatnya memberikan vaksinisasi gratis kepada kami, sehingga kami bisa menjalani proses jual beli barang kami ke Kota Maumere,” Ujarnya. ( RD )

  • Bagikan